Sabtu, 15 Agustus 2015

Komunikasi cinta ala orang tua

Siapa di dunia ini yang tidak ingin jadi orang tua? 95 persen pria dan wanita di dunia jika ditanya pasti ingin jadi orang tua meski dengan embel-embel keraguan...apakah mereka sanggup mendidik anak nantinya, apakah kemampuan finansial mereka mencukupi untuk memberi makan, menyekolahkan mereka (anak-anak mereka) hingga ke jenjang perguruan tinggi.  Keraguan semacam ini bukanlah keanehan. Dapat terjadi ketika perkawinan menjelang atau ketika mendengar sang istri mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung buah cinta mereka.  Kebingungan demi kebingungan yang silih berganti datang kerap hilang ketika buah hati benar benar hadir dalam kehidupan. Menatap mereka tentu saja menerbitkan naluri kebapakan pada pria dan naluri keibuan pada wanita. Terlebih wanita yang mengandung, membawa beban selama 9 bulan dan merasakan bagaimana getar getar kasih sayang timbul seiring tendangan halus di perut sang calon ibu.

Berkomunikasi dengan anak saat ini kebanyakan dimulai sejak anak dalam kandungan. Dimulai dengan membacakan ayat suci, memperdengarkan lagu klasik, mengajak ngobrol, membujuk dengan mengelus perut si ibu dan beberapa hal lain yang bertujuan membangun ikatan batin yang kuat. Ketika anak lahir, komunikasi tetap berlanjut meski bayi 0 hingga 40 hari cuma beraktivitas secara sama yaitu menangis, merem, melek, menandai suara dan lain lain.

Antusiasnya para ibu dan ayah baru ini akan berlanjut terus pada usia anak yang bisa mengoceh meski belum ada kata yang jelas diucapkan. Semakin intens kita mengajak anak berkomunikasi maka pembendaharaan kata yang dimiliki anak akan semakin banyak. Perlu di ingat ya bapak ibu sekalian...jangan mengucapkan kata kata yang sengaja di cadelkan dengan pemahaman bahwa anak akan lebih mengerti. Misalnya dengan mengganti kata makan dengan mamam, kata minum dengan num, atau kata tidur dengan kata bobok.

Ucapkanlah kata kata dengan benar dalam bahasa yang benar juga. Ini penting buat anak agar tidak tumbuh dengan kebiasaan berkomunikasi secara cadel atau pelo. Mengucapkan kata dengan aksentuasi yang jelas akan mengajari anak untuk berbicara yang benar pula. Sehingga sampai ia dewasa nanti, cara ia berbicara dan berkomunikasi itu benar adanya.

Selamat ngobrol sama anak ya ..bapak ibu :). Jangan lupa untuk senantiasa menyelipkan semangat dan motivasi dalam setiap pembicaraan. Berpikir positif dalam setiap keadaan. Dan memang hanya orang tua sajalah yang mampu menuntun anak kearah yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar